Lupakan budget kimia yang terus naik. Dalam 2 jam, pelajari bagaimana teknologi listrik (Electro-Coagulation) menggantikan koagulan konvensional, mengurangi lumpur B3, dan memangkas OPEX secara drastis.
Masalah klasik pengolahan air konvensional. Klik kartu untuk diagnosa:
Harga bahan kimia fluktuatif dan terus naik, menggerus margin profit...
Analisa >
Koagulan kimia menghasilkan lumpur B3 melimpah, biaya buang mahal...
Analisa >
Operator sering salah takaran dosis, bikin air keruh atau overdose...
Analisa >
Risiko kecelakaan kerja tinggi saat handling bahan kimia berbahaya...
Analisa >
Inventor & Manufacturer of EC Technology
Beliau bukan sekadar akademisi, tapi Manufaktur Asli Indonesia yang memproduksi alat Electro Coagulant. Lulusan tercepat S2 Teknik Material ITS ini memadukan kecerdasan akademis dengan pengalaman praktis di lapangan industri.
Teknologi sudah dipresentasikan & diuji di Mabes TNI AL (Dislitbangal).
Direktur Utama kontraktor yang menangani klien raksasa seperti Pertamina & Holcim.
[ TRUSTED BY INDUSTRY LEADERS ]
(Klik modul untuk melihat detail teknis)
Bagaimana reaksi redoks (anoda/katoda) bekerja menggantikan fungsi koagulan kimia...
Mengenal varian alat: Electro Coagulant, Electro Disinfectant, hingga Electro Adjust pH...
Simulasi hitungan real penghematan biaya listrik vs pembelian bahan kimia bulanan...
Contoh penerapan teknologi ini di industri nyata dan militer (TNI AL)...
Harga perkenalan untuk teknologi masa depan. Lebih murah dari 1 jerigen kimia.
⚡ Bonus Eksklusif:
Rp 500.000
Rp 99.000
Harga bahan kimia (PAC, Tawas, Polimer) sangat fluktuatif dan cenderung naik, yang menggerus margin keuntungan pabrik. Dengan beralih ke listrik, biaya operasional menjadi lebih stabil dan terprediksi.
Penggunaan koagulan kimia menghasilkan volume lumpur yang sangat besar. Biaya pembuangan lumpur B3 ke pihak ketiga sangat mahal. Teknologi EC menghasilkan lumpur yang jauh lebih sedikit dan kering.
Human error saat penakaran bahan kimia sering terjadi, menyebabkan air menjadi keruh kembali atau overdosis kimia yang berbahaya. Sistem EC bekerja dengan parameter listrik yang presisi dan mudah diatur.
Gudang bahan kimia adalah area berisiko tinggi. Kecelakaan kerja saat handling bahan kimia korosif atau beracun bisa dihindari sepenuhnya dengan beralih ke teknologi non-chemical.
Mempelajari bagaimana anoda dan katoda bekerja melepaskan ion ke dalam air yang berfungsi menggumpalkan kotoran (koagulasi) tanpa penambahan obat kimia. Memahami reaksi redoks sederhana yang terjadi.
Mengenal berbagai varian alat berbasis listrik: Electro Coagulant (pengganti koagulan), Electro Disinfectant (pembunuh kuman), hingga Electro Adjust pH (pengatur pH tanpa asam/basa).
Simulasi hitungan "Head-to-Head": Biaya listrik per m3 air VS Biaya pembelian bahan kimia per m3 air. Anda akan melihat sendiri penghematan masif yang bisa didapatkan.
Melihat contoh penerapan teknologi ini di berbagai industri dan juga di lingkungan militer (TNI AL), membuktikan ketangguhan dan efektivitas alat ini di lapangan.
Lupakan budget kimia yang terus naik. Dalam 2 jam, pelajari bagaimana teknologi listrik (Electro-Coagulation) menggantikan koagulan konvensional, mengurangi lumpur B3, dan memangkas OPEX secara drastis.
Masalah klasik pengolahan air konvensional. Klik kartu untuk diagnosa:
Harga bahan kimia fluktuatif dan terus naik, menggerus margin profit...
Analisa >
Koagulan kimia menghasilkan lumpur B3 melimpah, biaya buang mahal...
Analisa >
Operator sering salah takaran dosis, bikin air keruh atau overdose...
Analisa >
Risiko kecelakaan kerja tinggi saat handling bahan kimia berbahaya...
Analisa >
Inventor & Manufacturer of EC Technology
Beliau bukan sekadar akademisi, tapi Manufaktur Asli Indonesia yang memproduksi alat Electro Coagulant. Lulusan tercepat S2 Teknik Material ITS ini memadukan kecerdasan akademis dengan pengalaman praktis di lapangan industri.
Teknologi sudah dipresentasikan & diuji di Mabes TNI AL (Dislitbangal).
Direktur Utama kontraktor yang menangani klien raksasa seperti Pertamina & Holcim.
[ TRUSTED BY INDUSTRY LEADERS ]
(Klik modul untuk melihat detail teknis)
Bagaimana reaksi redoks (anoda/katoda) bekerja menggantikan fungsi koagulan kimia...
Mengenal varian alat: Electro Coagulant, Electro Disinfectant, hingga Electro Adjust pH...
Simulasi hitungan real penghematan biaya listrik vs pembelian bahan kimia bulanan...
Contoh penerapan teknologi ini di industri nyata dan militer (TNI AL)...
Harga perkenalan untuk teknologi masa depan. Lebih murah dari 1 jerigen kimia.
⚡ Bonus Eksklusif:
Rp 500.000
Rp 99.000
Harga bahan kimia (PAC, Tawas, Polimer) sangat fluktuatif dan cenderung naik, yang menggerus margin keuntungan pabrik. Dengan beralih ke listrik, biaya operasional menjadi lebih stabil dan terprediksi.
Penggunaan koagulan kimia menghasilkan volume lumpur yang sangat besar. Biaya pembuangan lumpur B3 ke pihak ketiga sangat mahal. Teknologi EC menghasilkan lumpur yang jauh lebih sedikit dan kering.
Human error saat penakaran bahan kimia sering terjadi, menyebabkan air menjadi keruh kembali atau overdosis kimia yang berbahaya. Sistem EC bekerja dengan parameter listrik yang presisi dan mudah diatur.
Gudang bahan kimia adalah area berisiko tinggi. Kecelakaan kerja saat handling bahan kimia korosif atau beracun bisa dihindari sepenuhnya dengan beralih ke teknologi non-chemical.
Mempelajari bagaimana anoda dan katoda bekerja melepaskan ion ke dalam air yang berfungsi menggumpalkan kotoran (koagulasi) tanpa penambahan obat kimia. Memahami reaksi redoks sederhana yang terjadi.
Mengenal berbagai varian alat berbasis listrik: Electro Coagulant (pengganti koagulan), Electro Disinfectant (pembunuh kuman), hingga Electro Adjust pH (pengatur pH tanpa asam/basa).
Simulasi hitungan "Head-to-Head": Biaya listrik per m3 air VS Biaya pembelian bahan kimia per m3 air. Anda akan melihat sendiri penghematan masif yang bisa didapatkan.
Melihat contoh penerapan teknologi ini di berbagai industri dan juga di lingkungan militer (TNI AL), membuktikan ketangguhan dan efektivitas alat ini di lapangan.